[email protected] Jl. Ganggawa no.3 Parepare Login

Rokok Elektrik: Berbahaya atau bermanfaat…………?

Rokok Elektrik: Berbahaya atau bermanfaat…………?

Penulis:Hasnawati, Editor:Hasnawati

Dilihat dari halaman health.detik,com, peta prevalensi perokok  WHO menyebutkan bahwa prevalensi perokok laki-laki di Indonesia pada tahun 2015 paling tinggi di dunia dengan angka mencapai 76,2 persen. Di peringkat kedua ada Yordania dengan prevalensi perokok mencapai 70,2 persen lalu Kiribati dengan angka 63,9 persen.

Bagaimana dengan rokok elektrik (e-rokok), tren merokok terbaru saat ini? yang dikenal dikalangan anak muda nge “vaping.” Apakah lebih aman dari pada merokok biasa dan bisakah rokok elektrik ini membantu orang berhenti dari rokok biasa?

Dikutip dari  media Indonesia.com, Riset Kesehatan Dasar (riskesdas) 2018 menunjukkan, untuk proporsi rokok elektrik yang dihisap penduduk umur kurang dari 10 tahun di Indonesia pada 2018 sebanyak 2,8 %, pengguna rokok elektrik terbanyak terdapat pada kelompok usia 10-14 tahun sebesar 10,6%, kelompok usia 15-19 tahun 10,5%, dan kelompok usia 20-24 tahun sebanyak 7%. 

Rokok elektrik adalah perangkat yang dioperasikan dengan baterai yang menghasilkan aerosol dengan memanaskan cairan yang mengandung nikotin. Dikutip dari Centers for Disease Control and Prevention, disingkat  (CDC).

Rokok elektrik ini memiliki potensi untuk menyebabkan masalah kesehatan yang serius bagi pengguna yang masih muda dan dewasa, kata Dr.Laren Tan, MD, seorang ahli paru dan ahli astmatologi di Loma Linda University Health. Dikutip dari news.ellu.edu

“Kerusakan yang disebabkan oleh rokok elektrik, baik pada anak di bawah umur dan orang dewasa, dapat menimbulkan risiko kesehatan yang dapat memicu bahaya jangka panjang,” kata Tan.

 “Kita tahu bahwa perasa pada rokok elektrik tertentu mengandung diacetyl, dan bahan kimia lain yakni nikotin, partikel ultrafine, senyawa organik yang mudah menguap seperti benzena. Biasanya ditemukan pada knalpot mobil, serta logam berat, seperti nikel, yang terkait dengan penyakit paru-paru serius. Menghirup diacetyl menyebabkan peradangan, iritasi, dan dapat menyebabkan kerusakan paru-paru permanen. ” kata Tan

Sebuah publikasi baru-baru ini oleh CDC mencatat bahwa komponen logam yang diperlukan agar rokok elektrik berfungsi “yaitu dengan memanaskan cairan dan berubah menjadi uap hingga melepaskan partikel logam kecil bersama uapnya”. Partikel logam ini biasanya dari logam berat, seperti nikel atau timah. Ketika dihirup, logam-logam ini merusak jaringan paru-paru dan menurunkan daya tahan alami tubuh terhadap infeksi dan kanker.

Vape dari rokok elektrik ini adalah uap suhu dingin yang tidak memerlukan pembakaran sebagaimana layaknya rokok biasa. Dengan demikian, pengguna rokok elektrik dapat mengambil napas lebih dalam ketika menghirup zat, sehingga menyebabkan mereka menghirup nikotin dalam jumlah yang lebih besar, bersama dengan partikel logam yang berasal dari perangkat pemanas.

“Gumpalan asap yang disebabkan oleh vaping secara substansial lebih banyak dari pada asap yang disebabkan oleh rokok biasa, itulah yang membuat kami percaya bahwa orang yang nge”vaping” menkonsumsi nikotin lebih banyak per isapnya,” kata Tan.

Tan mengatakan saluran udara menyempit saat terkena asap panas dan ini akan membatasi jumlah udara yang dapat dihirup paru-paru. “Vape yang keren ini, penuh dengan partikel metal, nikotin, dan karsinogen, yang akan meresap masuk ke paru-paru. Bagi kaum muda yang dalam usia pertumbuhan, ini bisa sangat merusak kesehatan jangka pendek dan jangka panjang. ”

“Perokok yang ingin berhenti merokok harus menerima saran pribadi dari seorang profesional medis tentang metode terbaik untuk berhenti merokok yang sesuai dengan  keadaan pribadi mereka. Dalam beberapa kasus, saran untuk menggunakan rokok elektrik adalah solusi jangka pendek, asalkan itu ditambah dengan terapi perilaku dan penggunaanya terbatas sesuai waktu yang telah disepakati dengan terapis. untuk penghentian total, “kata Dr. Patrick O’Gara, seorang ahli jantung di Brigham and Women’s Hospital yang berafiliasi dengan Harvard. Dikutip dari health.harvard.edu